"Uhh......" desahku sambil melepas jilbab dan merebahkan tubuhku di atas kasur. Aku menatap jam dinding yang ada di kamarku, 14.00. Aku memutuskan yntuk tidur sejenak.
Nada sms handphone-ku berbunyi. Aku meraih handphone-ku meski mataku masih sulit terbuka. Ternyata sms dari Aldi. Aku baru ingat hari ini Aldi tidak masuk sekolah.
Reina tdi ada tugas?
Langsung kujawab,
Membuat cerpen untuk tugas bahasa Indonesia,
besok harus dikumpul. Eh iya,u kenapa ga msk skul?
Ia mengirim,
Thanks ya. Tadi q ga enak badan. udah dulu ya,q mo
sholat. Gih sana,u sholat juga.
Kujawab,
Sipp dah.
Aku dan Aldi udah berteman selama 2 tahun lebih. Sejak kelas 10 SMA kami sekelas dan sampai sekarang kami uda duduk di kelas 12 IPA 1. Di antara semua teman cowok kelasku, cuma dia yang aku beri simpati lebih.
07.00,aku sudah berada di sekolah. Aku mengucapkan salam pada penghuni kelas 12 IPA 1 dan aku melihat sosok Aldi yang duduk di bangkunya.
"Aldi,kamu udah masuk,bagaimana keadaanmu?"
"Seperta yang kamu lihat Neng Reina,temanku yang tomboi. Aku ada di sini,so aku udah baikan."
"Uhh,dasar Aldi nyebelin,pake ngatain aku tomboi segala." aku memukulnya dengan buku yang aku pegang.
Penghuni kelasku,mengenal aku sebagai pribadi yang tomboi. Aku tidak mengelak jika dikatakan sebagai tomboi. Meskipun begitu,aku tetep mengenakan jilbab. Bahkan ada yang menyebutku sebagai muslimah tapi tomboi(MTT gitu). Namun entah mengapa jika Aldi yang berkata seperti itu,seakan hatiku memberontak bahwab itu tidak benar.
"Rei,makan yuk!
"Rei,Rei.....Reina tahu. Ga deh,aku lagi saum. Kamu aja sana!
Aldi meninggalkanku menuju kantin. Setelah Aldi tidak terlihat lagi oleh pandanganku. Riri menghampiri aku.
"Reina, boleh ngobrol ga?" tanya Riri.
"Ya iyalah,mau ngomong apa?"
"Kamu kan dekat ma Aldi,so kamu tau dong siapa pacar dia."
"Pacar, boro-boro punya pacar, siapa juga yang mo sama dia." sambil tertawa.
"Jangan salah Reina,gitu-gitu juga aku suka ma dia,ups keceplos." Riri menutup mulutnya.
"Apa? kamu suka ma dia?" raut wajahku tiba-tiba berubah.
"Iya,aku suka ma dia. Reina,janji kamu ga akan ngasih tahu ke orang lain hal ini!"
"Ok deh."
14.00,bel pulang berbunyi. Aldi mengajakku untuk pulang bersama,tentunya naik angkot. Untuk sampai di jalan raya,kami harus berjalan sejauh 400 meter. Aku masih teringat percakapanku dengan Riri. Aku tidak dapat membohongi diriku sendiri. Dari lubuk hatiku yang paling dalam,aku tidak rela ad orang ketiga yang mengganggu hubungan kami.Ya,selama ini aku menganggap Aldi sebagai sahabatku. Meskipun aku tidak pernah jujur kepada Aldi tentang semua ini. Rahasia yang telah kupendam selama 2 tahun lebih. Entah apa yang membuat aku menyembunyikan hal ini darinya. Namun untukku itu semua tidak penting. Yang aku tahu,aku menyayangi Aldi sebagai sahabat.
"Ooi,kok bengong? angkotnya udah ada tuh."
"Aldi,kanget tau."
"Ya udah naik aja neng,ga usah pake marah."
Aku sadar,bahwa kelak kami akan menjalani hidup masing-masing. Namun, nama Aldi Pratama akan selalu terukir di dalam hatiku. waktu yang akan menguak rahasia ini.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar